memoriku berjalan kejadian tahun lalu
"Nad, gimana kalo kita daftar OSIS?" kata Lila suatu ketika
"apa?pengen sih tapi gimana ya?males"kataku
"gak papa ikut aja nih formulirnya" kata Lila sambil memberi formulir
"iya deh" kataku akhirnya
hari hari kuhabiskan dengan Lila katakanlah seleksi untuk ketua OSIS aku cukup menikmatinya
"Nad kita masuk jadi kandidat ketua OSIS?" kata Lila mengejutkanku
"ha? masa sih Lil?"kataku tak percaya
"iya" Lila menjawabnya
"wah gak nyangka yaa" kataku sambil senyum
"dulu aja gamau sekarang seneng" ledek Lila
"eh, gak juga" jawabku asal
"Nad, kamu jadi kandidat OSIS ya?" kata salah seorang teman
"hehe iya" jawabku
"aku dukung kamu yaa" katanya
dukungan dari teman temanku berdatangan tapi tak kudapat dari dia tapi tak kupikirkan
"udah nyiapin pidato?" tanya Lila
"udah nih" jawanku sambil memberi selembar kertas
Lila membacanya cukup seksama lalu mengembalikannya
Tiba saatnya kami berpidato di depan teman teman. Aku mendapat giliran terakhir jadi aku menunggu di dalam ruangan
"Nad giliranmu" kata pak Doni salah satu pembina OSIS
aku pun melangkah ke lapangan dan membaca visi misiku entah mengapa teman teman gaduh, tapi kucoba mengabaikannya. Aku masuk ke ruang tunggu tadi dan salah seorang guru memintaku dan calon calon lain termasuk Lila berkumpul
"tadi kalian hebat tapi Nadia bagaimana bisa kau" kata pak Doni
"apa pak?" aku menjawab sedikit bingung
"bagimana bisa visi misimu sama seperti punya Lila? bisa kau menjelaskannya" kata pak Doni
"mungkin cuma kebetulan cuma mirip pak?" kataku mencoba menetralisir perasaanku
"tidak kalian sangat sama 80% sama" elak pak Doni
"apa pak?" aku terkejut
"Lila mana teksmu" perintah pak Doni lalu Lila memberikan teksnya dan pak Doni memberikan padaku
aku membandingkannya terdiam, aku syok menurutku ini 95% sama tapi ini ideku jadi ini alasannya teman teman gaduh kupandangi Lila yang tak mau menatap wajahku
"Lila tadi sudah menjelaskannya bapak tidak menyangka kau itu teman deketnya kan? tapi ide dari Lila mala kau jiplak" pak Doni berkata sengit padaku
"apa pak?" kataku masih tak terima
"Lila itu anak pintar dan kau beruntung berteman dengannya tapi ya Tuhan bapak gak nyangka" kata pak Doni terus memojokanku
"pak ini salah paham" aku mencoba mengelak
"stop masalah ini sudah clear saya pusing kembali ke kelas" perintahnya
aku membeku
"semuanya cepat" teriaknya
aku keluar ruangan dengan perasaan tak percaya
Gosip aku menjiplak menyebar, semua memandang padaku.aku tahu masih ada mereka teman temanku yang terus percaya aku dan menguatkanku tanpa mereka entah aku bagaimna tapi tetap saja ini menyakitkan Tiba saatnya pemilihan ketua OSIS yang seperti kuduga Lila pemenangnya dan aku hanya 20-30 orang yang memilihku dari sekian banyak siswa.
"mama tahu sakitnya aku?"
Akhirnya mama memelukku seakan akan tidak akan melepaskanku dan kubiarkan air mata ini bercucuran.
"Dia mencurinya ma, apa yang kurang dari dia? dia pintar memenangkan semua olimpiade dia hebat, sedang aku ma? aku cuman ingin terlihat sedikit saja" kataku bercucuran air mata
"sudah nak sudah"
susana sunyi berlangsung cukup lama
"Nad, kamu inget film yang dulu kita tonton" kata mama
"apa?" jawabku lemas
"a moment to remember" katanya
"hah" aku menerawang
"memaafkan adalah memberi sedikit ruang pada rasa kebencian" kata mama mengingatkan
"sangat mudah mengatakannya tapi aku melakukannya sangat sulit. Bagiku memaafkan adalah seperti sebuah kertas yang sudah dicoret coret lalu kita menghapus sedikit demi sedikit jika sudah selesai pasti ada bekas hapusan itu tidak bisa kembali seperti dulu kau harus membakarnya intinya jika aku harus memaafkan Lila aku harus menghapusnya dari hidupku tak berbekas."
"kamu ini terlalu ekstrem , terlalu berlebihan"
"Terlalu ekstrem ma? Jika mama bilang ini adalah sifat remajaku yang cenderung melebih lebihkan tapi ini memang nyatanya,terlalu sakit hatiku."
mama diam
"coba kamu lupain kaitannya dengan Lila mama sedang bicarain film bukan Lila"
"apa?"
"sudahlah nak"
"apanya?"
"telan nak telan"
"mama ini bicara apa?"
"telan gengsimu buat maafin Lila"
aku hanya diam memikirkan kata kata mama benarkah selama ini karna gengsi aku sulit maafin dia?
"ma haruskah aku baikan dengan Lila?”kataku
“toh tanpa Lila aku masih punya banyak temen” tambahku
“harus,dia sahabatmu”kata mama
“sahabat sejak kecil pula”tambah mama
“sahabat yang menusuk dari belakang?”kataku
“Lila punya kesalahan besar,mungkin kamu sulit memaafkannya”
“perlu kamu tahu mama dulu cukup kecewa berat dengan Lila,tapi melihat Lila selalu menjauh dari mama seakan takut sama mama. Mama kasihan,sepertinya dia punya rasa bersalah mendalam”kata mama
Aku tersentak mendengar cerita mama tak kusangka Lila seperti itu
“Sayang ,Tuhan mau mengampuni hambanya yang berdosa sebanyak apapun tapi ingat syaratnya hambanya itu harus mau memaafkan sesamanya”kata mama
“entahlah ma”kataku
“mama enggak mau kamu dapat nilai 100 di agama selalu aktif baksos tapi kenyataannya aplikasinya sendiri gagal”kata mama
Suasana hening menyerang
“aku bukan orang seperti itu ma aku tidak selalu mendapat nilai sempurna dan tidak selalu aktif baksos ” kataku memecah keheningan
“apalagi kalau begitu tambah ogah”canda mama
Kami tertawa bersama
Sunyi sebentar,dan
“aku akan menemuinya”kataku akhirnya
Mama tersenyum dan memelukku
Esoknya aku bermaksud menemuinya tapi karena rapat OSIS jadi membuatku menunggu
“Hei Dina,Lila mana?”kataku pada Dina,temanku anggota OSIS juga
“dia enggak datang rapat dan enggak masuk sekolah juga”kata Dina
“oh makasih”kataku
Kegelisahan menderu jangan jangan mimpiku benar
Aku berlari ke rumah Lila yang kebetulan dekat tapi rumahnya sepi aku menelpon handphonenya mailbox terus,menelpon rumahnya enggak bisa, aku merasa takut.
Sampai di rumah aku cerita sama mama, mama yang ikut cemas juga menelpon orangtuanya tapi juga mailbox. Pikiranku semakin kacau
Beberapa hari berlalu, tak pernah ada khabar dari Lila
"nadia"
"ya ma"
“sayang,ini nomor telponnya Lila yang baru”kata mama sambil memberikan secarik kertas
“hah” kataku entah kaget atau senang
“kok nomornya panjang gini ma?”kataku
“karena itu ada kode akses dan kode negaranya jadi kelihatan panjang”kata mama
“hah?”kataku
"nomor australia"
“ayahnya pindah tugas”kata mama
"Lila pindah?"
Lila pindah ke Australia tanpa memberitahuku,aku kecewa.
"Nad, telfon dia"
aku memnadang mama cukup lama dan mengangguk. aku berjalan menuju meja telpon dang mulai menekan tombolnya
“Nad, bersikap baik ya?” kata mama penuh senyuman
Aku mengangguk "akan kucoba"
“hello”kata Lila
Aku terdiam
“hello?” kata Lila lagi
“helloo?”kata Lila lagi
Aku menarik nafas
“Hai Lila”kataku
Telpon sunyi
“apa khabar?”kataku memecah kesunyian
“masih ingat bahasa Indonesia kan?” candaku sebaik mungkin
“aku mencarimu beberapa hari lalu di sekolah aku menunggu sampai selesai rapat OSIS namun kau tak muncul”kataku
Suasana tetap sunyi
“aku bermaksud ….
minta maaf, baikan kau tahu”kataku “tapi kau pergi”kataku
Terdengar suara isakan dari luar
“aku … minta ma…af”kata Lila penuh isakan
“buat apa?” kataku “kesalahanmu cukup banyak”kataku sambil tertawa
“a..ku”kata Lilaa dan dilanjutkan tangisan
“stop menangis Lila please” kataku
“a…ku minta maa..f”katanya
“iya, buat pergi tanpa ijin atau buat….” Aku menarik nafas “yang lain”kataku
“aku minta maaf buat semuanya aku bukan sahabat yang baik”katanya
“aku iri padamu pencuri dan aku terlalu mentingin egoku,ingin ....”tambahnya
Aku mulai terisak
“ke..napa kau iri padaku?dengan semua prestasimu?apa yang membuatmu iri?”kataku
“kau tahu kau lebih hebat dalam organisasi dan aku nol besar”katanya
“maafkan aku”katanya lagi
“jujur waktu itu aku membencimu sangat”kataku
“a..ku minta maaf aku takut untuk menemuimu aku takut setiap bertemu papa dan mamamu dan aku takut… minta maaf”katanya
Aku menangis “ aku juga minta maaf telah membencimu”kataku
“kau pantas membenciku” katanya
“tidak.. aku tahu seorang sahabat sejati sudah seharusnya tidak membenci sahabatnya”kataku
Kami terdiam sejenak
“a..ku minta maaf tidak pamit aku taku…t” sambung Lila
"Nad...ia" sambungnya lagi
Aku tersenyum di ujung telepon sambil membatin Tuhan terima kasih.
"Lila"kataku Lila hanya menangis
"I miss you" kataku
***
Semua kembali baik
Semua telah berakhir bagiku
Kini, aku merasa bernafas , aku merasa bebas
kugendong tasku
"Ma aku berangkat dulu"
"gak mama anter?"
"gausah"
aku masuk ke sekolah dengan senyum
:D
Selasa, 23 Agustus 2011
Langganan:
Postingan (Atom)

